TIM GURU EKONOMI SMAN 70

August 27, 2008

Pengusangan Diri dan Cara Menjadi Kaya

Filed under: Uncategorized — by permanaadi @ 3:23 am

Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan seorang teman lama yang berkeluh kesah dengan posisinya sekarang. Singkat kata dia yang telah bersusah payah merintis penerbitan suatu tabloid koran ekonomi kini tanpa dinyana mendapatkan atasan teman sendiri yang seolah nangkring bergitu saja di puncak tanpa usaha.

Kejadian ini bukan yang pertama kali dialami. Seolah sudah menjadi pola, teman yang tak diragukan kompetensinya ini memang langganan ‘dipinggirkan’. Tak peduli dia seorang yang kritis memperjuangkan aspirasi rekan kerja dan cukup dikenal oleh sejumlah pemegang saham di perusahaannya.

Karena mendapatkan cerita yang seolah sudah merupakan pola, saya agak jemu juga karena dari dulu sampai sekarang tak ada solusi nyata. Meski saya sepenuhnya sadar bahwa pilihan solusi bagi redaktur senior seperti dirinya yang juga pemilik sebagian saham di perusahaan induk sungguh merupakan satu dilema.

Kejadian ini mengingatkan saya pada satu cerita tentang sejenis monyet yang jadi sasaran favorit para pemburu satu suku di Afrika karena mudah ditangkap. Yang menarik adalah cara menangkapnya yang sederhana yaitu menggunakan kendi dari tembaga yang diikatkan pohon atau batu yang besar.

Kendi itu diisi kacang yang sebagian disebar di luar kendi. Saat melihat kacang dan memastikan keadaan aman, monyet yang hidup di atas pepohonan itu turun dan mulai memakan kacang yang tersebar. Setelah kacang di luar kendi habis, sang monyet mulai mengincar kacang yang ada di dalam kendi.

Dia memasukkan tangannya tangannya untuk mengambil kacang. Karena menggenggam kacang, tangan si monyet tadi tidak bisa ditarik keluar dari dalam kendi yang tertambat di pohon atau batu besar. Dan sang monyet tidak mau kehilangan kacangnya sehingga dia akhirnya hanya ngendon di situ dan tak bisa pergi.

Bahkan sampai pemburu datang, tetap saja si monyet tak mau melepaskan genggamannya untuk bisa lari menyelamatkan diri. Konon monyet itu baru mau melepaskan kacang yang ada dalam genggamannya saat mati disembelih. Penggambaran itu ironisnya juga terjadi pada manusia yang mestinya jauh lebih pintar dari monyet.

Ironi Klise
Banyak di antara kita yang sudah tahu bahwa apa yang dilakukan sekarang tidak akan membantu mencapai apa yang diinginkan dan dicita-citakan, khususnya untuk menjadi lebih kaya dan sejahtera. Namun sering kita kita takut kehilangan ‘kacang’ sampai rela ‘disembelih’ baik oleh kondisi eksternal maupun keterbatasan diri.

Kejadian seperti ini sungguh suatu cerita klise yang ironinya bahkan tak disadari banyak orang. Sering kita jadi larut dan membiarkan kondisi mengambang tanpa kesimpulan dan menjalani saja pilihan yang ada. Tak sadar bahwa kita telah merugi setidaknya dari sisi waktu yang semakin habis dan peluang yang hilang.

Pada teman di atas, jelas dia telah kehilangan banyak waktu karena meskipun telah berbuat yang terbaik dia tetap menjadi obyek peminggiran kebijakan direksi dan pemegang saham yang tak ingin banyak gejolak di perusahaan. Termasuk pilihan pesangon yang sangat minimal bila pindah kerja saat ini.

Sementara jika sejak lama mengambil keputusan, setidaknya jelas akan mengakhiri konflik dalam diri. Selain bahwa kesempatan di luar untuk berkembang kemungkinan lebih banyak dan lebih besar karena pengalaman kerja dan kompetensi merupakan hal tak ternilai yang jadi penentu di pasar kerja.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: